Jumat, 23 Januari 2015

Konsep Barokah Dalam Pendidikan: Kemanakah Dikau Berkelana?

“Hormatilah gurumu, agar engkau mendapatkan barokah”. Pernyataan seperti itu sering saya dengar sejak di Madrasah Ibtidaiyah sampai menempuh pendidikan di Perguruan Tinggi. Dulu, mungkin kata barokah sangat di agung-agungkan terutama di lingkungan pesantren atau pendidikan berbasis Islam. saya pernah menempuh pesantren kilat di sebuah Pondok Pesantren yang terkenal dengan konsep barokah yang begitu kental, berbeda dengan pesantren yang pernah saya ketahui sebelumnya, pesantren ini tidak banyak berkoar-koar tentang peraturan yang segunung, malah bisa dikatakan hampir tidak ada peraturan yang bersifat formalitas, tertuang dalam buku besar pesantren, dan pengurus keamanan akan menunjukkan taringnya jika ada yang mencoba melanggar.
Pesantren ini tidak mempunyai kepengurusan yang terkonsep, hanya memaksimalkan peran ketua kamar dan segelintir pengurus yang tidak terlalu disibukkan dengan ulah para santri yang menguras energi , mungkin dalam fikiran anda, problema pelik yang menimpa pesantren berlatar belakang salaf ini, tapi pada kenyataannya sungguh diluar dugaan; Kedamaian, kenyamanan, dan adab luar biasa yang diperlihatkan ketika kita perrtama kali menginjakkan kaki di tempat ini. Saya sendiri adalah orang pesantren, mengapa harus takjub lingkungan seperti itu? bukankah peristiwa semacam itu sudah sering saya alami?, ‘ini beda’, tepis saya dalam hati, ya, pesantren ini begitu mengagungkan barokah, tidak ada satupun warning-warning yang di tempel di dinding-dinding sepanjang bangunan sederhana itu. Yang ada hanya sebuah doktrin yang terpatri kuat dalam benak, hati dan fikiran para santrinya, bahwa dengan manut dawuh bunyai, melaksanakan ajaran dan nilai-nilai syari’at Islam, maka secara otomatis akan mendapatkan barokah yang akan mengantarnya kepada hakikat kebahagiaan sebenarnya.
Lalu, apa sebenarnya barokah itu? dan bagaimana cara memperolehnya?para alim sering mengartikan bahwa barokah adalah bertambahnya kebaikan dalam kehidupan dan pengaruh baik yang mendatangkan keselamatan dan kebahagiaan dari orang yang dihormati atau dianggap suci. Misal guru, orang tua, ulama’ ataupun kiai. Barokah juga sering dimaknai dengan “ ziyadatul khair bil khair”(sesuatu yang dapat menambah kebaikan kepada sesama). Pengertian ini sangat luas cakupannya dan dapat diterapkan secara luwes tergantung konteks yang kita kehendaki. Bila dikaitkan dengan pendidikan, maka barokah itu adalah dengan berbuat baik terhadap guru dan ilmu itu sendiri.
Contoh sederhananya adalah saling mendoakan. Seorang guru tak cukup hanya mengajar dengan baik, di sela-sela keheningan malam ia mendoakan anak-anak didiknya agar ilmu yang diajarkan memberikan kemanfaatan, kemaslahatan, dan keberkahan. Demikian juga seorang murid tak cukup belajar dengan rajin, tapi juga tak pernah lupa mendoakan guru-guru mereka agar dikaruniai kesehatan, hikmah dan kesabaran sehingga mampu mengajar dengan baik.
Mungkin pengalaman saya bisa dijadikan pandangan, tepatnya ketika saya melaksanakan PPL (Praktek Pengalaman Lapangan) di sebuah sekolah yang ada di kota bondowoso, awal menginjakkan kaki di sekolah ini saya merasakan oase kedamaian bathiniyah yang begitu mendalam, padahal saya bukan berada di sebuah pesantren. Lantunan burdah terdengar saling bersahutan di masing-masing sudut kelas, diiringi dengan pembacaan ayat-ayat Al-Qur’an yang membangun motivasi perjuangan fi sabilillah, dan  saya semakin kagum ketika bukan hanya para murid yang melaksanakan rutinitas setiap sebelum memulai pelajaran ini, ketika saya melewati ruang guru, tampak semua guru begitu antusias dengan kitab sucinya . sungguh pemandangan yang luar biasa dan mengagumkan. Dan dampak dari rutinitas tersebut sekolah ini dikategorikan sekolah dengan segudang prestasi membanggakan yang hampir tidak pernah terseret kasus kenakalan remaja yang begitu menyedot perhatian akhir-akhir ini. Bersalaman ta’dzim dan berucap salam ketika bertemu guru, bersholawat dan berjama’ah adalah  kebiasaan yang sudah mendarah daging. Suatu ketika salah seorang asatidz sekolah tersebut yang mana juga dosen saya sendiri pernah memberikan nasihat bahwa bertawashul kepada anak-anak didik kita dengan membaca Al-qur’an atau minimal dengan surat Al-fatihah setiap akan memberikan dirasah adalah amalan yang dapat memberikan efek yang luar biasa dalam proses belajar mengajar. Alangkah menyejukkan jika tradisi-tradisi seperti contoh diatas kembali dihidupkan ditengah maraknya krisis budi pekerti yang melanda pendidikan negeri. Dari pengalaman ini, saya ber-muhasabah bahwa sebagai murid saya tidak mengizinkan diri saya untuk tidak bertawashul kepada para kiai dan guru, dan saya sebagai guru tidak sepatutnya untuk tidak riyadhoh, mendoakan seluruh anak-anak yang telah memberi saya kesempatan untuk memperbanyak bekal di Akhirat kelak.
Bolehlah kita membuka kitab ta’lim muta’allim yang seringkali diajarkan ketika di pesantren. Dalam kitab karangan syaikh Al-Zarnuji ini aksetuensi penjelasannya lebih mengarah pada pembelajaran yang berlandaskan nilai-nilai ilahiyah, spiritual, dan akhlaq, sekalipun melibatkan seluruh komponen dasar dalam proses pembelajaran. Penekanan pada aspek ini didasarkan atas nilai dogmatika islam yang diturunkan wahyu ilahi. Sebab, tidak semua persoalan tarbiyah dapat dijawab melalui analisis objektif-empiris, tapi jutru membutuhkan analistis yang bersifat aksiomatis. Dengan kata lain, di samping, mata, telinga, dan pikiran sebagai sarana meraih pengetahuan, Al-Qur’an pun menggarisbawahi  peranan ke sucian hati (tazkiyah ). Hanya dengan tazkiyah an-nafs (penyucian jiwa)  kita akan memperoleh hidayah. Sehingga pengetahuan yang diperoleh bukan hanya dapat meningkatkan nilai tambah ekonomi ( economical added value) tapi juga nilai tambah insani (human being added value). maka benar, bahwa dengan menghargai seluruh komponen-komponen pendidikan maka kita akan mendapatkan kebaikan yang memang menjadi tujuan sejak awal. Kadang muncul tanda tanya dalam benak ini, kok bisa menggantungkan kesuksesan dengan menghargai seorang guru atau kitab-kitab yang kita pelajari? Bukankah dengan bersungguh-sungguh mendalami ilmu pengetahuan, berlatih skill-skill yang dibutuhkan dalam masyarakat lebih mendekatkan kita kepada sukses? Memang, dalam Islam keberhasilan mencari ilmu tidak harus dibuktikan secara empiris dan rasio, melainkan juga terdapat kekuatan yang bersifat transenden yang tidak dapat dijangkau indera maupun akal manusia. Selamat menemukan kembali barokah. Wallahu A’lam.

1 komentar: